Posts

Tabula Rasa

Tabula Rasa @Key-A Semalam aku diajak memutari dimensi lain, bertemu dengan ayahku di dunia parallel. Di dunia itu, kami bertiga menunggu kedatangan seseorang yang dinantikan pulang dari luar kota, suasananya persis ketika kami bertiga menunggu ayah pulang dari luar kota. Dan kau tau hal apa yang kulakukan ketika melihat seseorang yang kami nantikan berdiri di ambang pintu? Aku segera berlari menghampiri, seakan semua itu benar-benar terasa nyata, seakan aku kembali diajak ke masa dimana aku, dan yang lainnya dapat berkumpul lengkap- full team empat orang. Ayah tersenyum lebar, merangkulku persis sama tak ada yang berubah dari pelukan hangatnya, menyambut kembali gadis kecilnya yang telah lama berkelana pergi. Untuk sejenak saja, kurasakan waktuku berhenti, ayah mendekapku erat, seraya mendengar keluh-kesah yang kusampaikan kepadanya. Terhitung tepat setengah tahun sejak kepergiannya dan baru detik itu kurasakan kehadirannya begitu nyata, sedekat itu hadir, walau hanya dalam duni...

Bunga Tidur II

Sudah lama sepertinya kita tak bersua dalam dimensi lamunan mimpi. Entah siapa diantara kita yang merindu, namun kali ini kau kembali hadir menyapaku dalam alam maya. Kau duduk tepat dihadapanku, berdialog panjang, membawa serta bayang nyatamu. Bukan, bukan dialog satu arah- tapi komunikasi dua arah. Aku pikir ini nyata, aku rasa ini real, ternyata sekali lagi aku salah sangka, aku hanya larut dalam lamunan mimpi. Kata mereka jika seseorang hadir dalam mimpimu itu pertanda dia terbesit akan dirimu, tapi rasanya itu sebuah kenaifan dan kebodohan yang nyata! Dan aku yakin, dengan sifat dan karakteristikmu yang seperti itu, kau pasti akan tertawa puas menertawakan kebodohanku yang lain. Ah sudahlah, yang aku tau hanya sebatas itu saja aku dapat berbincang denganmu, memberiku ruang dengan waktu luangmu. Wahai, taukah kau dimana dapat ku temukan jawaban atas tanda tanya yang kau munculkan? Aku tak pernah menemukannya, bahkan hingga detik ini aku tak dapat membedakan mana baya...

Biarlah Rahasia

Biarlah Rahasia @Key-A Aku terlalu bodoh, hingga mempersilahkan diri mengarungi kisah yang tak seharusnya ku baca. Tenggelam dalam lautan pasrah dengan ribuan tanya menghujam, menghantui. Ku coba cari jawabnya, namun nihil! Aku akan selalu larut dalam keputusasaan, tanpa sebuah jawaban yang ku temui, dengan ribuan  tanya terdeteksi. Sekali ku coba tarik-ulur, mengecek setiap indeks, berharap ada satu kata yang terlewati. Namun selalu sama, aku berakhir pada ketakkuasaanku berkehendak.  Tak sepatutnya aku mencari tau, karena semakin ku ingin tau, semakin aku luruh berkeping-keping menjadi buih. Sudah sepatutnya itu menjadi rahasia,- Wahai, bukankah setiap manusia memiliki Pandora-nya  masing-masing? Lalu kenapa kau memaksa membuka Pandora yang bukan milikmu? Kau mungkin memegang kuncinya, tapi percayalah biar waktu memainkan perannya, yang perlu kau lakukan hanyalah bersabar.

Nyanyian Februari

Wahai bayu, sampaikan kepadanya jika aku merindu. Sebenar-benarnya rindu dengan segala makna kontinuitas didalamnya. Namun apa daya, jarak dan saluran tuk ku bicara harus menjadi dinding pembatas di siang ini. Benar memang adanya, hujan selalu datang dengan penuh kenangan dan genangan. Bahkan ia membawa setiap nyanyian rindu terselip diantara rinai-rintik kecil nya. Membasahi bumi, bergulir lembut dikaca jendela, menyapa ku riang dengan iringan guntur-kilat bersamanya. Seakan berseru, tatap aku wahai puan yang tengah dirundung rindu, lihatlah bukankah hujan merupakan hal yang paling kau rindukan di setiap penghujung dan pembuka tahun? Bukankah dulu kau senang berlari dibawah rinai-rintikku tanpa perlu risau akan esok yang membingungkan? Apalagi yang kau tunggu? Ketika aku datang bersama ribuan genangan kenangan, masih dapatkah kau bersembunyi dan menafiknya, berdiam diri dibalik kata damai padahal kau, tak pernah menemukan eksistensi damai? Aku diserbu dengan ribuan tanya, ditika...

Sorai

Duniamu itu luas, masih banyak yang akan kau temukan diluar sana ratusan sungai, laut dan puluhan samudera. Pilihlah salah satu sungai yang menjadikan dirimu muaranya, pun sebaliknya. Bukankah kau sendiri yang beranggapan kita layaknya sepasang samudera yang masing-masing mencari muara? Kau berjanji temukan cara buat samudera-ku dan samudera-mu bertemu, layaknya terusan Suez yang menghubungkan Laut Tengah dan Laut Mati. Namun, apa yang kau ucapkan sekarang?  Arus-ku dan arus-mu tak akan pernah bertemu, bahkan alur-ku dan alur-mu bersua saja tidak. Selamanya angin dan ombak tak akan pernah berpihak pada kita,- Biar kau temukan Mesir dan Nil- mu, sementara aku mencari Seine -ku kita tak akan pernah tau, masing-masing dari kita memiliki muara yang berbeda.  Dan biarkan, laut Mediterania di selatan menjadi batas pasti yang membuat kita merasa aman.

Titip Rindu Buat Ayah

Key-A “Bila masih mungkin, kita menorehkan batin. Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas, mumpung masih ada, kesempatan buat kita, mengumpulkan bekal perjalanan abadi… (Ooo..Dududu..) Kita pasti ingat, tragedi yang memilukan, kenapa harus mereka yang terpilih menghadap, tentu ada hikmah yang harus kita petik, atas nama jiwa mari heningkan cipta”-Masih ada waktu Alunan lagu Ebiet G Ade melantun lemah di ujung sana, membawa serta diriku kepada bayangan rumah, ayah dan ribuan kenangan bersamanya. Bahkan hingga bulan kelima sejak kepergiannya kembali kepada sang pencipta, aku masih seperti di antarkan pada bayangan realita yang seakan tak nyata. Berharap mendengar kembali suaranya, sapaannya yang selalu lucu, walau ku tau ayahku bukan orang yang humoris, karena humornya hanya dapat dipahami oleh kami-keluarga kecilnya. Biar aku sampaikan rinduku sejenak dalam tulisan ini, karena ku tau gelombang transimisi, berpilin di udara tak akan bisa menyampaikan salamku kepadanya, hanya doa yang...

Cermin

“Kita seperti bercermin, terlihat nyata. Tapi, tidak benar-benar ada.” Jikalau Mesir hidup karena Nilnya, akankah kita menemukan muara yang sama? Akankah kau menjadi Nil yang menghidupkan Mesir-ku? Atau menjadi Nil yang memilih bermuara pada laut lepas? Jikalau jodoh itu seperti cermin, akankah kau menjadi cermin ku?  Menghasilkan bayangan sempurna, bersifat tegak, memantulkan bayangan maya dan terbalik dan membuat setiap jarak terlihat sama. Wahai, taukah engkau yang memilih menjadi bayanganku kelak, tak pernah terbesit sekali pun bagiku, untukmu menetap hanya sebagai cermin, memantulkan apa yang ada tanpa pernah tau apa yang tersembunyi di balik kabut dan diam. Semoga, kau tak hanya berdiam disana. Memantulkan setiap bayangan yang terus berdiri didepanmu, kau tau? Aku tak ingin beranjak pergi dari sini, namun perhentian ini mulai membuat ku merasa lelah dan kehabisan akal.

21

Sudah lama tak bersapa dengan aksara yang sengaja ku torehkan disini, untuk apa ku tuliskan? Entahlah, tak ada alasan yang spesifik saya hanya senang mereview sejauh mana saya sudah berjalan? sejauh mana saya sudah bisa menerima keadaan, berdamai dengan masa lalu, mengatur harap dan ingin, merajut asa bersama masa depan. Hari ini, tepat 21 tahun yang lalu saya dilahirkan dimuka bumi ini, melihat dunia, menyapa keluarga dengan tangis dan mereka menyambut dengan haru. Ternyata waktu bergulir dengan cepat yah, saya yang sejauh ini masih belum merasakan kepuasan atas pencapaian yang didapat. Namun, bukan hidup namanya jika hanya berjalan lurus dan mulus, beberapa kali saya terjatuh dalam lubang, dan akan selalu saya usahakan untuk bisa bangkit dan menatap lurus kedepan. Tahun ini, rasanya baru kemarin menyapa Januari, melewati Februari, berduka di Agustus, dan tersadar di bulan sebelum penghujung 2018. Saya punya segudang cerita dan karakter di lembar sepanjang tahun ini, banyak kata ya...

Surat Untukmu

Image
Surat Untukmu “Pulang kepelukanmu, tentramnya telinga yang mendengar  tanpa menghakimi. Secangkir kopi hangat, yang kita hirup berdua. Gurauan dalam petuahmu, Ibu-ibu-ibu aku rindu, Hanya kau tempat dimana aku menjadi diriku sendiri.” Bahkan setelah 21 tahun berlalu senyum itu masih sama, doa itu masih teruntai untuk kami yang kini terpisah oleh jarak dan ruang dari mu jiwa yang kukasihi, ibu. Kuucapkan selamat hari jadi yang ke-46, tak terasa waktu bergulir dengan cepat, aku hadir dalam kehidupanmu 21 tahun yang lalu, tepat ketika engkau berusia 25 tahun. Tak ada kata yang dapat kuungkapkan lebih selain rasa syukur dan terimakasihku yang teramat sangat untukmu, malaikat yang dikirim kepada kami. Terlampau sering diri ini berbuat khilaf, bahkan tak sekali-duakali kekesalan dan  kenakalan ku membuat emosimu memuncak, namun dengan  segenap kesabaran dan keikhlasan yang kau pegang teguh, tak pernah sama sekali ku dengar amarah dan kata-kata kasar keluar dari ucapmu....

Bunga Tidur

Bunga Tidur 01.45 a.m Aku tersadar dari mimpi indahku semalam. Terlalu dini hari untuk meyakinkan diriku sendiri kalo semua ini hanyalah mimpi,- Mimpi itu seakan begitu nyata, tidak hanya membawa bayangmu mendekat padaku bahkan disana, dirimu terasa begitu dekat dan nyata. Kita berbincang, saling berhadapan satu sama lain. Bahkan, suara mu masih terdengar jelas hingga pagi ini, suaramu yang jelas, jernih memanggil namaku dari kejauhan, menggaung penuh memenuhi ruang. Bahkan hanya dengan suaramu aku berharap hidup nyata didalamnya, berharap semua itu bukan bayangan maya dan bersifat semu. Namuun, pagi ini aku tersadar, terlalu naïf rasanya berharap semua itu menjadi nyata dalam realita kehidupan. Ketahuilah, aku hanya ingin menikmati waktu luang bersamamu, mendengar kau berkeluh-kesah ditengah padatnya aktifitasmu, berbincang bersamamu tanpa perlu mengandalakan gelombang transmisi. Bercerita tanpa perlu takut, kau menghilang diujung sana, dan entah disisi mana kau ber...