POV PESAN

 [Lekas membaik, dear. Love you]

Aku bertransmisi, berputar, mengirim beberapa kata singkat, berharap tiba tepat waktu.

*Ting

Aku tiba, sesuai dengan tujuan yang ia tuju. Sesekali ia tatap kembali layar yang menampakkan ketikan tangannya, sudah sesuai gumamnya dengan gusar dan muka kusut ia matikan gawai nya, berharap esok ia temukan jawaban dari sang tuan.

Aku sering melihat ekspresinya yang beragam setiap harinya, muka bahagia, tersenyum kecil, tertawa lepas, atau muka kusut hingga tetesan air mata berurai. Aku tak bisa menepuk punggungnya, atau mengucapkan kata penenang, karena aku hanya sebuah sarana komunikasi. 

Aku juga berharap pesan nya malam itu, bisa di baca sang tuan, namun ternyata aku salah. Ia juga mungkin tak menyangka hal ini.

Pada akhirnya, aku sudah berusaha maksimal, berjuang menyampaikan ketikan nya, bertransmisi di udara dengan signal, memutus jarak yang terbentang supaya mereka tetap terhubung. Kali ini, misi aku tak berhasil.

Sang tuan tak pernah membaca pesan terakhir yg puannya kirim, kita semua kalah sama “waktu”. Kita lupa, waktu sebenarnya berperan penting untuk kita semua. Kali ini, aku lihat ekspresi yang berbeda, bukan lagi tangis air mata kekesalan, yang ku lihat saat ini tatapan kosong dan penyesalan. 

Maafkan aku puan, aku sudah berusaha sebaik mungkin menyampaikan pesanmu.

Pada akhirnya, pesan yang ia ketik sampai kepada sang tuan, dengan tujuan yang tidak salah dan di terima di gawai sang tuan. Tapi, aku menjadi sebuah pesan yang tidak pernah terbaca. Tersampaikan, namun terabaikan. 

Sesekali ia berharap nomor sang tuan yang masih aktif membalas pesannya, tapi nihil. Gawai itu bukan lagi di pegang sang tuan, ia tetap mendapat balasan dari nomor tersebut, tapi bukan orang yang sama yang membalas pesan nya.

Aku masih menjadi sebuah pesan unfinished business yang sering ia rasakan sebagai penyesalan.

Comments

Popular posts from this blog

Selaksa Nabastala

Anitya

Tahniah