Posts

7.370

Di pagiku yang ke-7370, aku hampir kembali kejalan tanpa arah dan tanpa navigasi aku terpuruk dengan keadaan dan tekanan yang ada, hingga akhirnya secercah cahaya itu kembali hadir dan menuntun ku kembali ke jalan yang seharusnya ku tuju, untuk mencapai tujuan dan akhir yang ku inginkan. Pagi itu, suasana sukses membawa dan membuka kembali kisah-kisah di lembar lama, sudah kuurungkan namun kerap bermunculan, aku yang salah, aku yang mengizinkan mereka kembali muncul dipermukaan walaupun sudah kuurangkan begitu dalam. Walaupun sang surya tak memunculkan wajahnya di pagi itu, tetap saja aku telah melewati satu pagi dalam hari ku. Setibanya aku disana, aku kembali dihadapkan dengan tempat yang selama ini masih menyimpan banyak kenangan dan kisah, di tempat yang menjadi tempat tersejuk dan tertenang yang pernah kutemukan, tempat dimana aku dapat mengadu kepada Yang Maha Kuasa atas segala hal dalam diriku yang tanpa kuasa ini, tempat dimana terakhir kali kita bertemu dan bersua, enta...

Dunia 150-karakter

Setelah memudarnya batasan-batasan jarak secara nyata, tanpa kita sadari setiap orang dari kita sudah terperangkap dalam dunia tanpa batasan yang pasti. Kita terjebak dalam dunia 150-karakter, dunia dimana orang bisa dengan bebasnya menyampaikan dan mengutarakan segala yang mereka rasakan tanpa memperdulikan apa sebab-akibat dari apa yang telah mereka tuliskan. Terkadang kita juga dibutakan oleh nafsu-amarah, angkara-murka yang membabi buta. Sadarkah kita, sebegitu cepatnyakah sabar kita bersembunyi dan terkalahkan dengan emosi, ego sesaat? Dalam dunia 150-karakter kita bisa menjadi orang yang berbeda-beda setiap harinya. Hari ini berperan sebagai superhero, mungkin besok pagi bisa saja berperan sebagai pemeran antagonis, terus berlanjut seperti itu, siklusnya tanpa henti. Mungkin kita perlu memahami eksistensi dan esensi dari kemajuan tekhnologi serta memaknai artian globalisasi secara sadar-utuh. Padahal adanya jarak yang berantara, adanya spasi yang memisahkan membuat k...

7.364

Paragraf terakhir, di halaman 7.364 satu misteri lagi terungkap, di matahari yang ke-8.370 kau ceritakan kembali kisah yang sudah kau urungkan. Aku larut dalam hening, sungguh terlalu dalam aku terhanyut dalam palung laut yang aku ciptakan sendiri, seharusnya ketika aku sadari dari awal tak sepantasnya menyentuh kisah ini aku langsung bertindak. Tapi apa? aku malah membiarkan diriku masuk kedalam kisah ini terlalu dalam Kau tau? Kisah ini layaknya pedang bermata dua, setiap lembar lama dibuka, setiap itu juga sayatan dan lukanya semakin dalam. Setiap aku berlaku tegar setiap itu juga aku hancur berkali kali kembali ke kepingan-kepingan kecil, layaknya potongan puzzle yang disusun dan diacak kembali Aku tau aku yang salah, aku yang tak seharusnya bertindak sejauh ini malah semakin terjun kedalam dunia drama tak berkesudahan. Sudah dari awal harusnya aku mendengarkan nasihat lama terlalu peduli membawa kita ke permasalahan baru, dan SEMPURNA! itu yang terjadi, aku sekaligus menj...

Pekan Ketiga Bulan Januari

Sajak di pekan ketiga bulan Januari, Seseorang bertanya pagi ini kepadaku, apa persamaannya Kenangan dan Hujan? Kenangan memiliki persamaan seperti hujan. Ketika ia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? yang bisa kita lakukan hanya menunggu hingga selesai dengan sendirinya. Petang ini, aku menangis dalam senyap, terisak tanpa suara. entah sisi mana yang terluka terlalu dalam, aku sendiri tak dapat melihatnya, namun aku dapat merasakan sakitnya hingga detik ini. Inikah jenis luka terbaru? sakit tak berdarah, tak terisyarat dan tak bersayat. Namun terasa ada. Bahkan ketika aku mulai hancur karena jawaban dari misteri itu, aku masih berusaha untuk menghilangkan rasa kekecewaan ku yang terlalu dalam, aku semakin terlarut dalam palung laut yang aku ciptakan sendiri. Aku tenggelam, tenggelam dalam kisah yang seharusnya tak aku sentuh dari awal.

Lembar ke 7k Gelombang ke-8

Image
7.356 Ku sampaikan lewat semesta kepada engkau yang jauh di ujung belahan dunia sana. Duduklah sejenak disini dan rasakan hembusan angin yang menerpa wajahmu dengan halusnya sudah lebih dari sepekan cuaca memaksa kita kembali mengenang kisah yang tak seharusnya di ingat lagi, kisah yang seharusnya sudah diurungkan sejak lama. Duduklah sejenak, dan resapi melodi yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan dari sini kau dapat mendengar segalanya, tenangkan hati mu sejenak, dan coba uraikan benang kusut yang kini kau genggam 7.358 lembar pertama paragraf terakhir untuk kedua kalinya, acara ini dilangsungkan di gelombang kedelapan aku kembali ke dunia ku yang lama. bersatu dengan melodi, dan partitur sejenak meninggalkan dunia yang penuh akan modifikasi. dan apa yang terjadi dengan ku ditahun yang akan datang? jauh di lubuk hati terdalam selalu ingin mencoba hal baru, namun apa daya? selalu dan terjadi lagi aku kembali dititik tertentu dengan jangka waktu yang tak pasti. Di gelombang ke...

7.352

Lembar 8.102,- Sebut saja di lembar itu aku mulai menjadi peran figuran dalam kisah intrik nan klasik yang dimiliki orang yang mungkin tak perlu kita ketahui. Dan aku sendiri tak tau di lembar ke berapa aku mendapat peran di kisah hidupmu, dia, dan mereka. Baru kali ini aku menghitung lamanya matahari yang aku habiskan, dan telah berapa lembar kisah ini ku torehkan. Hari ini 11/365- di pagiku yang ke 7.352, aku kembali menghitung berapa lama dan berapa banyak lembar yang telah ku tuliskan. Ternyata di pagiku yang ke-6861 aku menemukan kisah baru. Kisah yang hingga kini masih berlanjut, bukannya aku munafik tapi mungkin aku terlalu naïf. Aku terlalu naïf ingin melihat bagaimana akhirnya kisah ini berlanjut, bahkan aku terlalu naïf untuk mengakui bahwa aku sudah diambang kekecewaan. di lembar 7.349,- aku hampa dalam hening, diam tak berkutik setelah sekian lama waktu yang kubutuhkan akhirnya aku memecahkan misteri yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam hidupku. Kal...

Pesanku di penghujung tahun 2017

-Aku kepadamu adalah seorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli kepadamu, itu semata-mata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan, aku menahannya untuk tidak lebih dari itu.- #untuk setiap orang yang diam-diam mendoakan Minggu terakhir di bulan Desember, 31-12-17 Terlalu banyak kisah yang tak terucap bahkan tak tertulis, untuk dapat ku ceritakan untukmu kelak. Tapi biarlah, biar pena ini mengalir, biar aku dapat merenungkan kisah-kisah yang telah lalu. Biar aku tersadar, betapa rapuhnya diri ini, bahkan ketika semua mulai melangkah pergi, satu persatu warna itu berganti. Merah-orange, pertanda emosi dan amarah kian luruh, ketika kau tersadar kini kau tak lagi diambang batas belas terakhir. Kau hidup ditengah kehidupan yang ambigu, antara kisah kelam di masa lalu, misteri di masa depan, serta langkah aman dimasa sekarang. Satu persatu mereka mengukir kisahnya masing-masing. Kau y...

Konflik di bulan Desember

Malam itu ditengah kemalut dunia yang tak ada hentinya, disela hembusan angin malam yang dingin, serta diiringi alunan musik mandarin yang mendayu-dayu. Kita terdiam, terlarut dalam hening dan ego masing-masing. Berkecamuk dalam pikiran masing-masing, berkutat dalam pendirian masing-masing. Hingga akhirnya, hujan itu tak dapat dielakkan lagi. Kau terdiam dengan emosi yang sudah diambang batasnya, hanya dapat diartikan dengan tangisan yang menjadi. Kau terisak dalam diam, sementara aku hanya dapat diam memikirkan dimana letak kesalahan utamaku, hingga membuatm menangis sejadi-jadinya. Sebut aku kejam, atas segala perkataanku yang tanpa ku sadari ternyata setajam pisau belati dan tepat menusuk sisi terlemahmu. Sebut aku dingin, atas segala sikap ku yang acuh dan membuatmu kesal. Kau boleh menyebut aku apapun sesukamu, sesuai hatimu. Hingga emosimu mereda, dan hujan di matamu tak lagi menggenang. Kau tau ? aku adalah aku Apapun keadaannya aku tetap menjadi diriku, aku m...

Tentang Aku

3 rd weeks after 20. Tanpa terasa setelah usiaku berganti, setelah waktu memasuki tiga minggu tepat, begitu banyak hikmah yang dapat ku ambil. Maafkan atas segala kekurangan dan kesalahan yang aku miliki. Maaf jika selama ini aku hanya menjadi pelemah dalam dirimu, atau mungkin aku hanyalah masa lalu yang ingin kau urungkan, namun kau pun tak kuasa untuk mengurungkannya dikarenakan aku masih kerap bermunculan, menyapa dan hilang, terbit-tenggelam layaknya pelangi yang mungkin kau kira mentari. 20, bukanlah angka yang tepat untuk bermain-main, kini aku dihadapkan dengan dilema berkepanjangan. Antara jalan panjang menuju masa depan, langkah masa sekarang, serta kenangan di masa lalu. Aku sadar, setengah jalan hidup yang telah terlewati ini semua berdasarkan pilihan dan keinginan ku sendiri, entah pilihan itu jatuh karena keegoisan ku atau mungkin karena cita dan mimpi yang kuimpikan. Layaknya, lembaran buku yang dibuka satu demi satu, banyak yang datang dan pergi   se...

Masa Lalu

Berapa kali aku terjatuh terlalu dalam, dan tersakiti dengan luka yang aku ciptakan sendiri? Berapa kali kekaguman ini membawa ku kedalam jurang pemisah yang dalam? Kau ciptakan citra terbaik dirimu, sementara aku disebrang jalan tak pernah dapat bersua denganmu. Kau sibuk dengan segala alur cerita hidupmu yang berliku, sementara aku masih setia disini menjadi pendengarmu, tanpa perlu beranjak pergi. Hingga, suatu kali kudapati kunci yang telah usang dan telah lama kau sembunyikan. Ku coba berkali-kali, mencocokkan satu sama lain, dan aku menemukannya. Disudut tergelap yang kau sebut kenangan dan memori, kau menyimpannya. Telah lama kau urungkan dan enggan untuk membukanya, kau bilang disitu luka terdalam mu yang pernah ada. Disana pula sakit berkepanjangan yang selama ini kau sembunyikan, disana pula kau tinggalkan segala macam emosi, sedih-bahagia, suka-duka, tangis-tawa. Semuanya bersatu-padu dalam kotak itu. Tolong, kau memohon secara iba. Jangan dibuka, kotak itu kembali,...